Beberapa Hadits Tarbawi

  1.      a. Matan hadits tentang pandang memandang

الآخرة ك ل س ولي الأولى لك فإنما النظرة رة النظ  تُتْبِعِ لا

“Janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukanlah untukmu” (HR Ahmad dari jalur Buraidah).

 

b. Makna pandangan pertama, kedua dan selanjutnya.

Pandangan pertama dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.
Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.”

Beliau juga bersabda: “Palingkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”

Dalam hadits lain beliau bersabda:“Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi-tepi) jalan.” Mereka berkata: “Ya Rasulullah, tempat-tempat duduk kami pasti di tepi jalan.” Beliau bersabda: “Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu.” Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Jawab beliau: “Memalingkan pandangan (dari hal yang dilarang Allah, pent), menyingkirkan gangguan dan menjawab salam.” Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan. Kemudian keinginan ini menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: “Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”.

.   Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu anha, bahwa  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda

  2.    a. matan hadits menuntut ilmu

  وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Matan dari hadits di atas adalah bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa demikian? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.

b. “Maksud sabda Nabi Saw. ‘Walaupun ke negeri Cina’ itu adalah kata-kata kiasan sebagai dorongan agar mau mencarinya walaupun mendapat kerepotan.” (Kitab Hasyiyah As-Sirajul Munir, Juz I, halaman 231)

Imam Ali Al-‘Azizi memberikan contoh sebagai dampak positif dari hadis tersebut, sebagai berikut:

“Karena adanya dorongan hadis ini Jabir bin Abdullah merantau dari Madinah ke Mesir, padahal hanya untuk mencari satu buah hadis.” (Kitab As-Sirajul Munir, Juz I, halaman 321)

Namun banyak ulama yang memberikan interpretasi terhadap hadis tersebut secara hakiki. Maksud hadis itu menurut mereka, janganlah hanya mempelajari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan urusan agama atau ibadah saja, tetapi juga mencari dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan lainnya, misalnya ilmu-ilmu kedokteran, farmasi, matematika, kimia, biologi, sosiologi, teknik, astronomi, arsitektur, dan lain-lain. Kalau pengertiannya hanya menyangkut ilmu yang berkaitan dengan ilmu keagamaan atau soal ibadah, niscaya Nabi Saw. tidaklah memerintahkan umatnya supaya menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina (Tiongkok), sebab keadaan penduduk negeri Cina pada masa itu umumnya masih menyembah berhala atau arca sehingga tidak mungkin dijadikan sebagai tempat atau sumber ilmu pengetahuan agama.

3.  hadits meminta izin masuk rumah orang lain:

Dari Abu Musa al-Asy’ari radiyallahu ‘anhu, Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اْلاِسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ، وَإِلاَّ فَارْجِعْ

Artinya: “Meminta izin itu tiga kali, apabila kamu diizinkan (maka kamu berhak masuk), apabila tidak diizinkan, maka hendaklah kamu pulang’.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad radiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah radiyallahu ‘anhu bersabda,
إِنَّمَا جُعِلَ اْلاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. 

Artinya: “Sesungguhnya meminta izin (masuk rumah) disyariatkan demi menjaga pandangan mata”. (HR. Bukhari Muslim)

Ayat meminta izin masuk rumah orang lain: Allah Subhanahu waTa`ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (An-Nur: 27).

4. adab isteri terhadap suami

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian istrinya tidak mau memenuhi ajakannya dan membuat suami itu bermalam dalam keadaan marah terhadap istrinya, maka istri itu dilaknat oleh malaikat sampai waktu pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sampai istri itu mendatangi suaminya.”

Haram seorang istri puasa sunnah tanpa izin suaminya bila suami berada di rumah:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri mengerjakan puasa sunnah sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali atas izinnya. Dan istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya, kecuali mendapat izin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Menyebut Keindahan Perempuan di hadapan suami:
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang perempuan bergaul dengan perempuan lain, kemudian menceritakan perempuan lain itu kepada suaminya, sehingga seakan-akan suaminya melihat perempuan yang diceritakan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adab suami terhadap isteri:

a)      Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)

b)       Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya. Firmas Allah “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya….”.(Ath-Thalaq: 7)

c)        Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)

d)     Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)

e)      Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)

f)       Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata Dan bergaullah dengan mereka secara patut….”(An-Nisa’: 19)

g)       Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).

h)      Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)

i)         Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)

j)        Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. Firman Allah “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adilmaka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki…..”(An-Nisa’:3)

k)       Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)

l)        Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)

5. hadits tentang bercakap-cakap

a)      Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan: “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

b)      Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra: “Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

c)       Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

d)      Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW: “Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

e)       Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW: “Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

f)       Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

g)      Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW: “Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

h)       Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW: “Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih).

i)         Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata: Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim). Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

Hadits tentang tetangga

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari Muslim)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s