Beberapa Hadits Tarbawi

  1.      a. Matan hadits tentang pandang memandang

الآخرة ك ل س ولي الأولى لك فإنما النظرة رة النظ  تُتْبِعِ لا

“Janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukanlah untukmu” (HR Ahmad dari jalur Buraidah).

 

b. Makna pandangan pertama, kedua dan selanjutnya.

Pandangan pertama dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.
Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.”

Beliau juga bersabda: “Palingkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”

Dalam hadits lain beliau bersabda:“Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi-tepi) jalan.” Mereka berkata: “Ya Rasulullah, tempat-tempat duduk kami pasti di tepi jalan.” Beliau bersabda: “Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu.” Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Jawab beliau: “Memalingkan pandangan (dari hal yang dilarang Allah, pent), menyingkirkan gangguan dan menjawab salam.” Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan. Kemudian keinginan ini menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: “Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”.

.   Disebutkan dalam sahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu anha, bahwa  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda

  2.    a. matan hadits menuntut ilmu

  وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah menudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Matan dari hadits di atas adalah bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa demikian? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.

b. “Maksud sabda Nabi Saw. ‘Walaupun ke negeri Cina’ itu adalah kata-kata kiasan sebagai dorongan agar mau mencarinya walaupun mendapat kerepotan.” (Kitab Hasyiyah As-Sirajul Munir, Juz I, halaman 231)

Imam Ali Al-‘Azizi memberikan contoh sebagai dampak positif dari hadis tersebut, sebagai berikut:

“Karena adanya dorongan hadis ini Jabir bin Abdullah merantau dari Madinah ke Mesir, padahal hanya untuk mencari satu buah hadis.” (Kitab As-Sirajul Munir, Juz I, halaman 321)

Namun banyak ulama yang memberikan interpretasi terhadap hadis tersebut secara hakiki. Maksud hadis itu menurut mereka, janganlah hanya mempelajari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan urusan agama atau ibadah saja, tetapi juga mencari dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan lainnya, misalnya ilmu-ilmu kedokteran, farmasi, matematika, kimia, biologi, sosiologi, teknik, astronomi, arsitektur, dan lain-lain. Kalau pengertiannya hanya menyangkut ilmu yang berkaitan dengan ilmu keagamaan atau soal ibadah, niscaya Nabi Saw. tidaklah memerintahkan umatnya supaya menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina (Tiongkok), sebab keadaan penduduk negeri Cina pada masa itu umumnya masih menyembah berhala atau arca sehingga tidak mungkin dijadikan sebagai tempat atau sumber ilmu pengetahuan agama.

3.  hadits meminta izin masuk rumah orang lain:

Dari Abu Musa al-Asy’ari radiyallahu ‘anhu, Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اْلاِسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ، وَإِلاَّ فَارْجِعْ

Artinya: “Meminta izin itu tiga kali, apabila kamu diizinkan (maka kamu berhak masuk), apabila tidak diizinkan, maka hendaklah kamu pulang’.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad radiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah radiyallahu ‘anhu bersabda,
إِنَّمَا جُعِلَ اْلاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. 

Artinya: “Sesungguhnya meminta izin (masuk rumah) disyariatkan demi menjaga pandangan mata”. (HR. Bukhari Muslim)

Ayat meminta izin masuk rumah orang lain: Allah Subhanahu waTa`ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (An-Nur: 27).

4. adab isteri terhadap suami

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian istrinya tidak mau memenuhi ajakannya dan membuat suami itu bermalam dalam keadaan marah terhadap istrinya, maka istri itu dilaknat oleh malaikat sampai waktu pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sampai istri itu mendatangi suaminya.”

Haram seorang istri puasa sunnah tanpa izin suaminya bila suami berada di rumah:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri mengerjakan puasa sunnah sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali atas izinnya. Dan istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya, kecuali mendapat izin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Menyebut Keindahan Perempuan di hadapan suami:
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang perempuan bergaul dengan perempuan lain, kemudian menceritakan perempuan lain itu kepada suaminya, sehingga seakan-akan suaminya melihat perempuan yang diceritakan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adab suami terhadap isteri:

a)      Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)

b)       Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya. Firmas Allah “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya….”.(Ath-Thalaq: 7)

c)        Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)

d)     Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)

e)      Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)

f)       Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata Dan bergaullah dengan mereka secara patut….”(An-Nisa’: 19)

g)       Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).

h)      Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)

i)         Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)

j)        Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. Firman Allah “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adilmaka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki…..”(An-Nisa’:3)

k)       Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)

l)        Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)

5. hadits tentang bercakap-cakap

a)      Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan: “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

b)      Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra: “Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

c)       Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

d)      Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW: “Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

e)       Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW: “Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

f)       Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

g)      Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW: “Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

h)       Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW: “Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih).

i)         Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata: Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim). Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

Hadits tentang tetangga

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari Muslim)

 

Tugas UAS “TEKNOLOGI PENDIDIKAN”

Nama: Siti Ariani Haji

Nim: 11.2.3.147

Jur/Prodi: Tarbiyah/ PAI 2

Semester: IV (Empat)

Email: shity_ariani@yahoo.com

MyBlog: sitiariani.wordpress.com

RESUME PEMBAHASAN  TEKNOLOGI PENDIDIKAN

MULAI DARI KELOMPOK 1 – 10

1)      Landasan Falsafah Teknologi Pendidikan

Landasan filosofis yang dapat dikaji melalui tiga kajian filsafat yaitu ontologi yang mewakili pertanyaan ”apa?” atau ”mengapa?”, epistimologi yang mewakili ”bagaimana?”, dan aksiologi ”untuk apa?”.Pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, siswa (peserta didik) bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Oleh karena itu teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.Pandangan epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan.Sedangkan M. Arif menyatakan bahwa Aksiologi (untuk apa) yaitu merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut. Landasan pembenaran atau landasan aksiologis teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.

 

2)      Pengertian dan Konsep Teknologi Pendidikan

Pengertian Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegerasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisa masalah dan merancang. Melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.

Konsep teknologi pendidikan adalah suatu alat yang yang dapat mempermudah dan membantu segala proses dalam belajar mengajar secara sistematis.

 

3)      Kawasan Teknologi Pendidikan

  1. Kawasan Desain
  2. Kawasan Pengembangan
  3. Kawasan Pemanfaatan
  4. Kawasan Pengelolaan
  5. Kawasan Penilaian

 

4)      Teknologi pendidikan konstruk teoritik bidang garapan dan profesi

Teknologi pendidikan  konstruk teoritik yaitu pandangan yang berbeda-beda dari pemikiran-pemikiran ilmuan/ pakar teknologi pendidikan. Konstruk teoritik ada yang konkrit ada juga yang abstrak. Yang konkrit berbicara dengan sesuatu yang memang sudah terlaksana seperti contohnya kurikulum, sedangkan yang abstrak yaitu rencana, bentuk, atau model pembelajaran yang efektif. Bidang garapan teknologi pendidikan aplikasi dan teori-teori, ide dan juga prinsip. Pemecahan masalahnya yaitu terletak pada profesi atau para pelaksananya.

 

5)      Disiplin ilmu yang mendukung perkembangan teknologi pendidikan

Diantaranya yaitu landasan falsafahnya yakni ontology (apa), epistimologi (untuk apa) dan aksiologi (bagaimana) itu sangat di perlikan untuk menjawab permasalahan-permasalahan didalam teknologi pendidikan, kemudian komunikasi yang mempermudah jalannya teknologi pendidikan, adapun Macam-macam disiplin ilamu yang mendukung perkembangan TP:

  1. a.       llmu Perilaku
  2. b.      llmu Komunikasi
  3. c.       ilmu Sosiologi
  4. d.      Ilmu Filsafat

 

6)      Hakikat teknologi pendidikan

Hakikat teknologi merupakan suatu  proses integral  yang meliputi manusia, prosudur, ide-ide peralata dan organisasi, dalam menganalisis  masalah serta merancang, melaksanakan , menilai dan mengelola pemecahan masalah itu yang berhubungan dengan  segala aspek  belajar manusia (Yusuf hadi Miarso.1984).

 

7)      Aplikasi teknologi pendidikan di era globalisasi

Semua aplikasi yang diciptakan manusia pasti ada tujuannnya, yaitu untuk memudahkan manusia. Dan itu sangat erat dengan dunia pendidikan yang memutuhkan teknologi pendidikan dengan aplikasi-aplikasi yang dimilikinya untuk memudahkan proses pembelajaran.

 

8)      Masalah-masalah dan solusi dalam teknologi pendidikan

Didalam dunia pendidikan tidak menutup kemungkinan pasti ada masalah-masalahyang timbul pada saat proses pembelajaran, seperti contoh ketika ada seorang guru yang memberikan materi hanya materi tanpa penjelasan maka itu tidak efektif maka itulah permasalahannya. Dan apabila seorang guru tidak bisa menerangkan materi dengan metode yang sudah ada berarti pada saat itu juga sudah hilang teknologi didalam pendidikan. Solusinya, bagaimana seorang guru berusaha semaksimal mungkin untuk merangsang kemauan belajar peserta didik dengan metode yang sudah ada di dalam dunia pendidikan. Contoh lain,Gambar atau foto adalah salah satu media teknologi yang cukup bagus digunakan sebagai media dalam praktek pendidikan. Hal itu karena gambar atau foto memiliki kelebihan seperti sifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi batas ruang dan waktu, dapat memperjelas satu masalah, dan mudah didapatkan. Namun sayangnya gambar juga memiliki kelemahan, di antaranya gambar hanya menekankan persepsi indera penglihatan, gambar yang terlalu komplek tidak efektif ketika digunakan dalam dalam sistem pembelajaran, ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Untuk itu maka harus ada filterisasi di situ, dan tentu mekanisme software teknologi pendidikan diperlukan untuk mengoptimalkan guna gambar atau foto yang digunakan. Software menyaring gambar atau foto yang akan digunakan. Solosinya, dengan menetapkan syarat-syarat berikut misalnya, software dalam teknologi pendidikan berperan; dengan mengklasifikasikan bahwa gambar yang dapat digunakan sebagai media pendidikan adalah yang autentik. Gambar yang menceritakan apa adanya satu peristiwa. Kemudian juga, gambar itu harus sederhana, apalagi jika siswa yang diajar masih dalam tingkatan bawah seperti siswa SD atau Taman kanak-kanak.

 

9)      Multimedia pembelajaran Berbantuan computer

 Penggunaan multimedia ini berpijak pada teori belajar konstruktivistik, yang memandang kegiatan belajar harus terpusat pada peserta didik karena kendali belajar sepenuhnya ada pada peserta didik itu sendiri. Multimedia pembelajaran berbantuan komputer adalah salah satu media pembelajaran yang mengutamakan keaktifan dan kemandirian bagi peserta didik dan juga menjadikan peserta didik sebagai subjek belajar, sedang peranan pengajar hanya sebagai fasilitator.

 

10)  Multiple Intelegences dalam pembelajaran berbantuan computer

Media pembelajaran berbasis computer atau biasa disebut pembelajaran berbantu computer  adalah salah satu media pembelajaran yang sangat  menarik dan mampu meningkatkan motivasi belajar perserta didik. Pengguna computer sebagai media pembelajaran inter aktif dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk diantaranya program computer –assisted learning.
 Program pembelajaran berbantu computer ini menmanfaatkan seluruh kemampuan computer, terdiri dari gabungan hampir seluruh media, yaitu teks, grafis, gambar, foto, audio, video, dan animasi. Seluruh media tersebut secara konvergen, akan saling mendukung dan melebur menjadi satu media yang luar biasa kemampuanya.

 

$pkš‰r’¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãZtB#uäbÎ)óOä.uä!%y`7,ř$sù:*t6t^Î/(#þqãY¨t6tGsùbr&(#qç7ŠÅÁè?$JBöqs%7’s#»ygpg¿2(#qßsÎ6óÁçGsù4’n?tã$tBóOçFù=yèsùtûüÏBω»tRÇÏÈ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu..

 

Hadits yang bersangkutan dengan Teknologi pendidikan

Atinya:

Diwajibkan atas Muslim laki-laki dan muslim perempuan wajib untuk menuntut ilmu

(H.R Muslim)

 

Saya mengambil surat al-hujurat ayat 6 menjadi dalil di dalam teknologi pendidikan karena           Q.S al-Hujurat ayat 6 isi kandungannya yaitu mengenai pendidikan informasi, apabila kita mendapatkan suatu informasi, maka informasi yang kita dapatkan harus diteliti kembali. Begitupun di dalam teknologi pendidikan teknologi yang kita pakai di dalam pendidikan haruslah kita uji kembali agar bisa mengena ketika kita menjadi seorang pengajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil UTS “TEKNOLOGI PENDIDIKAN”

Nama: Siti Ariani Haji

Nim: 11.2.3.147

Jur/Prodi: Tarbiyah/ PAI 2

Semester: IV (Empat)

Soal UTS Mata Kuliah “TEKNOLOGI PENDIDIKAN”

1)      Landasan falsafah Teknologi pendididkan

2)      Definisi Teknologi pendidikan dari tahun ke tahun

3)      Kemukakan definisi teknologi pendidikan menurut pendapat sendiri

4)      Jelaskan kawasandan domain teknologi pendidikan

 

Jawaban dari soal di atas:

1).  Landasan filosofis yang dapat dikaji melalui tiga kajian filsafat yaitu ontologi yang mewakili pertanyaan ”apa?” atau ”mengapa?”, epistimologi yang mewakili ”bagaimana?”, dan aksiologi ”untuk apa?”.

a.   Ontologi

Ontologi bertolak atas penyelidikan tentang hakekat ada (existence and being) (Brameld, 1955: 28). Pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, siswa (peserta didik) bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Oleh karena itu teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.

Menurut Sir Eric Ashby (1972, h. 9-10) tentang terjadinya empat Revolusi di dunia pendidikan yaitu:

  • Revolusi pertama terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerahkan sebagian tanggungjawab dan pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggungjawab untuk itu. Pada revolusi pertama ini masih ada kasus dimana orangtua atau keluarga masih melakukan sendiri pendidikan anak-anaknya. Dari beberapa literatur, seperti misalnya Seattler berusaha menelusuri secara historik perkembangan revolusi ini dengan mengemukakan bahwa kaum Sufi pada sekitar 500 SM menjadikan dirinya sebagai “penjual ilmu pengetahuan”, yaitu memberikan pelajaran kepada siapa saja yang bersedia memberinya upah atau imbalan.

Revolusi pertama ini terjadi karena orangtua/keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri.

  • Revolusi kedua terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahkan tanggungjawab untuk mendidik. Pengajaran pada saat itu diberikan secara verbal/lisan dan sementara itu kegiatan pendidikan dilembagakan dengan berbagai ketentuan yang dibakukan.

Penyebab terjadinya revolusi kedua ini karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara yang lebih cepat.

  • Revolusi ketiga muncul dengan ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan tersebarnya informasi iconic dan numeric dalam bentuk buku atau media cetak lainnya. Buku hingga saat ini dianggap sebagai media utama disamping guru untuk keperluan pendidikan. Revolusi ini masih berlangsung bahkan beberapa pandangan falsafati berpendapat bahwa masyarakat belajar adalah masyarakat membaca. Beberapa ahli menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih berlangsung budaya mendengarkan belum sampai pada budaya membaca.

Revolusi ketiga ini terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi, sementara itu kemampuan guru semakin terbatas, sehingga diperlukan penggunaan pengatahuan yang telah diramuka oleh orang lain.

  • Revolusi keempat berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik dimana yang paling menonjol diantaranya adalah media komunikasi (radio, televisi, tape dan lain-lain) yang berhasil menembus batas   geografi, sosial dan politis secara lebih intens daripada media cetak. Pesan – pesan dapat lebih cepat, bervariasi serta berpotensi untuk lebih berdaya guna bagi si penerima. Pada revolusi ini muncullah konsep keterbacaan (Literacy) baru, yang tidak sekedar menuntut pemahaman deretan huruf, angka, kata dan kalimat, tetapi juga pemahaman visual. Beberapa orang ahli berpendapat bahwa perkembangan media komunikasi ini menjadikan dunia semakin “mengecil”, menjadi suatu “global Village” dimana semua warganya saling mengenal, saling tahu dan saling bergantung satu sama lain. Dalam revolusi keempat ini memang ujud yang sangat menonjol adalah peralatan yang semakin canggih.

Penyebab revolusi ini adalah karena guru menyadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua ajaran yang diperlukan, dan karena itu yang lebih penting adalah mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui berbagai sumber dan saluran.

Berdasarkan penyebab dan kondisi perkembangan keempat revolusi yang terjadi di dunia pendidikan diatas dimana difokuskan pada masalah utama yaitu “belajar” dapat disederhanakan yaitu pada awalnya guru menghadapi anak didiknya dengan bertatap muka langsung dan guru bertindak sebagai satu-satunya sumber untuk belajar. Perkembangan berikutnya guru menggunakan sumber lain berupa buku yang ditulis oleh orang lain, atau dapat dikatakan bahwa guru membagi perannya dalam menyajikan ajaran kepada sejawat lain yang menyajikan pesan melalui buku. Dalam keadaan ini guru masih mungkin melaksanakan tugasnya menyeleksi buku dan mengawasi kegiatan belajar secara ketat. Dalam perkembangan selanjutnya media komunikasi mampu menyalurkan pesan yang dirancang oleh suatu tim yang terpisah dari guru, langsung kepada anak didik tanpa dapat dikendalikan oleh guru.

Dapat disimpulkan dari perkembangan revolusi yang terjadi bahwa tujuan pendidikanlah yang harus menentukan sarana apa saja yang dipergunakan atau dengan kata lain media komunikasi menentukan pesan (dan karena itu tujuan) yang perlu dikuasai. Dengan ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa adanya masalah-masalah baru yaitu:

v  adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, prosedur media dll), pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televisi, radio dll), alat (jaringan televisi, radio, dll) cara-cara tertentu dalam mengolah/ menyajikan pesan serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung.

v  Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun faktual. Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna keperluan belajar.

 

 

 

b.  Epistemologi

Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Pandangan epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan.

M. Arif berpendapat bahwa epistimologi (bagaimana) yaitu merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Ada 3 isi dari landasan epistimologi teknologi pendidikan yaitu :

  • Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah.
  • Unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistematik yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan dikelola sebagai suatu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah.
  • Penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.

c.  Aksiologi

Aksiologi (axiology), suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value) (candilaras, 2007). Menurut Wijaya Kusumah dalam kajian aksiologi, yaitu apa nilai / manfaat pengkajian teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam beberapa hal, diantaranya

1.      Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan)

2.      Penyempurnaan system Pendidikan

3.      Meluas dan meratnya kesempatan serta akses pendidikan

4.      Penyesuaian dengan kondisi pembelajaran

5.      Penyelarasan dengan perkembangan lingkungan

6.      Peningkatan partisipasi masyarakat

Sedangkan M. Arif menyatakan bahwa Aksiologi (untuk apa) yaitu merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut. Landasan pembenaran atau landasan aksiologis teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Menurutnya, landasan aksiologis teknologi pendidikan saat ini adalah:

  • Tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
  • Keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, antara lain:

1. Penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidikan, dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan.

2. Penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai dengan tantangan zaman dan kebutuhan pembangunan.

3. Peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan.

 

 

2). Definisi awal Teknologi Pendidikan dipandang sebagai media. Teknologi Pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengealuasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam betuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

  • Definisi teknologi pendidikan pada awal tahun 1920 dipandang sebagai media. Akar terbentuknya pandangan ini terjadi ketika pertama kali diproduksi media pendidikan pada awal abad dua puluhan. Media ini, sebagai media pembelajaran visual yang berupa film, gambar dan tampilan yang mulai ramai pada tahun 1920. definisi formal pembelajaran visual terfokus pada media yang digunakan untuk menampilkan sebuah pelajaran. Pandangan ini berlanjut sampai 1950.

Tahun 1960 dan 1970 Teknologi Pendidikan diapandang sebagai suatu proses.
Awal tahun 1950, khususnya selama tahun 1960 dan 1970 sejumlah ahli dalam bidang pendidikan mulai mendiskusiakan teknologi pendidikan dalam suatu yang berbeda. Mereka membahasnya sebagai suatu proses. Contohnya Finn (1960) mengatakan bahwa teknologi pendidikan harus dipandang sebagai suatu cara untuk melihat masalah pendidikan dan mneguji kemungkinan solusi dari masalah tersebut. Sedangkan Lumsdaine (1964) mengatakan bahwa teknologi pendidikan dapat dijadikan aplikasi ilmu pengetahuan pada praktek pendidikan. Pada tahun 1960an dan 1970 banayak definisi teknologi pendidikan yang dipandang sebagai suatu proses.

 

  • Definisi 1963

Di tahun 1963, definisi teknologi pendidikan digambarkan bukan hanya sebagai sebuah media. Definisi ini (Ey, 1963) menghasilkan dengan suatu komisi pengawas yang dibentuk olep Departemen Pendidikan Audiovisual (sekarang dikenal sebagai Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan). Definisi kini lebih memusat pada desain pembelajaran dan penggunaan media sebagai pengendalian proses belajar (p. 38). Lebih dari itu pengertian kini lebih menganali serangkaian langkah-langkah penerapan, perancangan, dan penggunaan. Langkah-langkah ini mencakup perencanaan, produksi, pemilihan, pemanfaatan, dan manajemen. Perubahan disini mencerminkan bahwa, bagaimana lingkungan dan kemajuan zaman dapat mengubah sebuah definisi dan praktek dari teknologi pendidikan.

  • Definisi 1970

Definisi selanjutnya merupakan definisi tahun 1970-an yang dikeluarkan oleh Komisi Pengawas Teknologi Pendidikan. Komisi pengawas ini dibentuk dan dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menguji permasalahan dan manfaat potensial yang berhubungan dengan teknologi pendidikan di sekolah-sekolah. Teknologi pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan mengunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

Jadi menurut konsep ini tujuan utama teknologi pembelajaran adalah membuat agar suatu pembelajaran lebih efektif. Bagaimana hal itu dilakukan? Dengan cara mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi secara sistematis berdasarkan teori komunikasi dan belajar tentunya, serta memanfaatkan segala sumber baik yang bersifat manusia maupun non manusia, dengan demikian, sejak tahun 1970an, sudah ada pandangan bahwa manusia (dalam hal ini guru) bukanlah satu-satunya sumber belajar.

  • Definisi 1977

Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegerasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisa masalah dan merancang. Melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.

  • Definisi 1994

Teknologi instruksional adalah praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses-proses maupun sumber-sumber balajar. Definisi ini lebih operasional dari pada rumusan tahun 1977 yang terlalu rumit, definisi ini menegaskan bahwa adanya lima dominant teknologi pembelajaran, yaitu kawasan desain, kawasan pengemabangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan, dan kawasan penilaian baik untuk proses maupun sumber belajar, seorang teknolog pembelajaran bias saja memfokuskan bidang garapannya dalam salah satu kawasan tersebut.

Definisi baru : menyatakan peran media, desain pembelajaran sistematis, dan pendayagunaan teknologi. Bidang teknologi dan desain pembelajaran mencakup analisis pembelajaran dan pencapaian masalah serta rancangan, pengembangan, pemanfaatan, evaluasi, manajemen, pembeljaaran, proses non pembelajaran untuk meningkatkan pencapaian pelajaran dalam berbagai peraturan, bidang pendidikan dan tempat kerja. Para ahli bidang desain pembelajaran dan teknologi sering menggunakan prosedur desain pembelajaran yang sistematis dari berbagai media pembelajaran untuk menyelesaikan tujuan mereka. Definisi ini menggaris bawahi dua praktek yaitu penggunaan media untuk tujuan pendidikan dan penggunaan prosedur desain pembelajaran yang sistematis. Mengapa kita menyebutnya desain pembelajaran dan teknologi ?

Definisi berbeda dari yang sebelumnya. Lebih mengacu pada bidang desain pembelajaran dan teknologi dibandingkan dengan teknologi pembeljaaran. Mengapa kebanyakan individu menggambarkan istilah teknologi pembelajaran dengan komputer, video, OHP, dan segala jenis hardware dan software lainnya yang berhubungan dengan media pembelajaran. Dengan kata lain banyak individu yang menyamakan teknologi pembelajaran dengan desain pembelajaran. Praktek desain pembelajaran sudah meletus sehingga banyak digunakan oleh individu yang menyebut diri mereka perancang pembelajaran.

Adapun definisi lain yaitu:

      DEFINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN TAHUN 1963-2004

  • Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963
    “ Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.”
  • Definisi Commission on Instruction Technology (CIT) 1970
    “Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis. Bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya.”
  •  Definisi Silber 1970
    “Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personal) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar”.
  • Definisi MacKenzie dan Eraut 1971
    “Teknologi Pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai”. Dalam definisi MacKenzie dan Eraut ini tidak menyebutkan perangkat lunak maupun perangkat keras, tetapi lebih berorientasi pada proses.
  • Definisi AECT 1972
    Pada tahun 1972, AECT berupaya merevisi defisini yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan sebagai berikut :
    “Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam : identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut”.
    Definisi ini didasari semangat untuk menetapkan komunikasi audio-visual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi.
  • Definisi AECT 1977
    “Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia.
    Definisi tahun 1977, AECT berusaha mengidentifikasi sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya, kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori.
  • Definisi AECT 1994
    “Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.”
    Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang dan profesi, yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktek yang kokoh. Definisi ini juga berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses dan produk.
  • Definisi AECT 2004
    “Teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses dan sumber daya teknologi.”
    Perbedaan antara definisi 1994 dan 2004 adalah :
    Definisi 2004
    1. Menekankan pada teori dan praktek.
    2. Menekankan pada Studi dan etika praktek
    3. Pokok kegiatan adalah desain, pengembangan, Penciptaan, pengaturan, penggunaan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian
    4. Tujuan untuk keperluan belajar
    5. Tujuan memfasilitasi pembelajaran
    6. Utilisasi proses & sumber belajar
    7. Utilisasi proses & sumber daya teknologi

Secara singkat dapat dikatakan bahwa definisi 2004 sudah mencakup aspek etika dalam profesi , peran sebagai fasilitator, dan pemanfaatan proses dan sumber daya teknologi.

 

3).  Setelah saya pelajari dari perkuliahan dan membaca beberapa pengertian tentang teknologi pendidikan, jadi menurut saya teknologi pendidikan adalah suatu cara yang didalam proses belajar-mengajar yang dilakukan secara sistematis atau sudah tersistem dengan baik. Agar bisa mempermudah proses belajar langsung maupun tidak langsung. Langsung ini misalnya seorang pendidik menggunakan salah satu teknologi di dalam proses belaja misalnya memakai Laptop, LCD, dan Speeaker didalam kelas untuk lebih mempermudah dan tidak hanya itu teknologi pendidikan juga mengajak peserta didik agar bisa lebih kreatif. Sedangkan  yang tidak langsung yaitu, proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara online, melalui aplikasi-aplikasi yang tersedia. Seperti yang tengah terjadi diluar negeri misalnya, para peserta didik bisa berkomunikasi atau ujian lewat internet (online). Jadi teknologi  pendidikan memang adalah salah satu sarana didalam dunia pendidikan utuk mempermudah, membantu, membuat peserta didik lebih kreatif dan cerdas.

4). Secara etimologis, domain berarti wilayah/ daerah kekuasaan atau bidang kajian/ kegiatan/ garapan yang lebih kecil, terinci dan spesifik dari lahan/ lapangan/ cakupan suatu ilmu. Arti kedua dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan kata ranah/ aras. Sedangkan kawasan-kawasannya yaitu:

a. Domain Desain

Desain adalah proses spesifikasi berbagai kondisi belajar. Domain desain mencakup rancangan sistem pengajaran, rancangan pesan/ bahan ajar, strategi pengajaran dan karakteristik pebelajar.

b. Domain Pengembangan

Pengembangan adalah proses usaha menjabarkan spesifikasi desain ke bentuk-bentuk fisik, misalnya: materi pelajaran yang dikembangkan melalui media belajar buku-buku pegangan, alat pelajaran/ peraga audio, visual atau audiovisual.

c. Domain Perlengkapan

Domain ini mungkin merupakan hal yang paling pelik dan berliku-liku dibandingkan domain lain dalam Teknologi Pembelajaran. Dalam domain inilah digeluti segala hal tentang pendayagunaan media instruksional yang baik untuk mencapai tujuan pengajaran, termasuk urusan pelembagaan serta kebijakan dan peraturan yang dapat mendukung atau sebaliknya menghambat. Domain perlengkapan merupakan bagian usaha mendayagunakan proses dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pengajaran.

d. Domain Pengelolaan

Konsep Pengelolaan merupakan bagian integral dari kawasan/ kajian teknologi pembelajaran dan peranan para ahli teknologi pembelajaran.

e. Domain Evaluasi

Evaluasi merupakan proses menentukan kesesuaian antara materi pelajaran dan proses belajar. Evaluasi dimulai dengan analisis problem yang merupakan langkah awal penting dalam pengembangan dan evaluasi isi pelajaran karena tujuan dan kendalanya diklarifikasi selama langkah ini dilaksanakan.

 

Sekian, inilah hasil dari jawaban saya. Bila ada kekeurangan saya mohon maaf.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makalah Filsafat Ilmu ” METAFISIKA”A.    Pendahuluan  Filsafat, atau dalam

  1. Makalah Filsafat Ilmu ” METAFISIKA”
  2. A.    Pendahuluan

 

 

Filsafat, atau dalam bahasa arab falsafah adalah berpikir radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Objek pemikiran  filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Segala yang ada merupakan bahan pemikiran filsafat. Filsafat merupakan usaha berpikir manusia yang sistematis sehingga membentuk ilmu pengetahuan. Filsafat adalah sebuah refleksi atas semua yang ada, seluruh realitas. Metafisika adalah pengetahuan yang mempersoalkan hakikat terakhir eksistensi, yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan alam. Metafisika tidak hanya sekedar bentuk pengetahuan, melainkan sebuah bentuk pengetahuan yang bersiftat sistematik.

Dalam arti tertentu metafisika merupakan sebuah ilmu, yakni suatu pencarian dengan daya intelek yang bersifat sistematis atas data pengalaman yang ada. Masalah metafisika adalah masalah yang paling dasar dan menjadi inti dalam filsafat[1]. Metafisika dan filsafat pada umumnya ingin mengantar orang kepada kehidupan.  Metafisiska sebagai ilmu yang mempunyai objeknya tersendiri. Hal ini memebedakannya dari pendekatan rasional yang lain. Objek telaahan metasifika berbeda dari ilmu alam, matematika, ilmu kedokteran.

 

  1. B.     Pengertian Metafisika

Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin: metaphysica dari Yunani meta ta physica (sesudah fisika); dari kata  meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika   merupakan bagian Filsafat tentang hakikat yang ada di sebalik fisika.[2] Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini: dengan mempertanyakan yang Ada (being), Alam ini wujud atau tidak? Siapakah kita (manusia)? Apakah peranan kita (manusia) dalam kehidupan ini?. Metafisika secara prinsip mengandung konsep kajian tentang sesuatu yang bersifat rohani dan yang tidak dapat diterangkan dengan kaedah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu yang lain.

  1. Secara etimologi meta adalah tidak dapat di lihat  oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat di lihat secara fisik[3]. Metafisika tidak bisa di uji secara empiris karena keberadaanya yang abstrak.
  2. Secara terminology metafisika Meta berasal (bahasa Italia) berarti setelah atau dibelakang. Adapun istilah lain metafisika  berakar dari kata Yunani, metataphysica. Dengan membuang ta  tambahan dan mengubah  physica ke fisika (physics) jadilah istilah metafisika yang berarti sesuatu di luar hal-hal fisik[4]. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles. Kata ini di-Arabkan menjadi ma’ ba’da al-thabi’ah (sesuatu setelah fisika). Menurut penuturan para sejarahwan filsafat, kata ini pertama kali digunakan sebagai judul buku Aristoteles setelah bagian fisika dan membuat pembahasan umum tentang eksistensi. Sebagian filosof Muslim merasa lebih cocok menggunakan istilah ma qabla al-thabi’ah (sesuatu sebelum fisika)[5]. Tampaknya, bagian yang berbeda adalah teologi utsulujiyyah. Dalam karya-karya para filosof Muslim, semua pembahasan di atas digabungkan dalam bagian “ketuhanan dalam arti umum”. Sedangkan teologi  dikhususkan dengan nama “ketuhanan dalam arti khusus”. Maka, metafisika dipakai untuk menyebut kumpulan soal-soal teoretis-intelektual filsafat dalam arti umum.

 

  1. Metafisika dalam sebuah ensiklopedia Britannica filsafat di artikan sebagai berikut:

Metaphysics is the philosophical study whose objek is to determine the meaning, structure and principles of whater is insofar as it is. Although this study is popularly conceived as referring to anything excessively subtle and highly theoretical and although it has been subjected to many criticisms, it is presented by metaphysicians as the most fundamental and most comprehensive of inquiries, inasmuch as it is concerned with reality as a whole”.[6]

(Translate): “Metafisika adalah studi filosofis yang objeknya untuk menentukan arti, struktur dan prinsip-prinsip. walaupun ini mengacu pada sesuatu yang terlalu halus dan sangat teoritis  dan meskipun mengalami banyak kritik. Maka banyak pertanyaan metafisika yang paling mendasar dan paling komprehensif, karena metafisika berkaitan dengan realitas secara keseluruhan”.[7]

 

 

  1. C.    Pemikiran  Para Filosof Terhadap Metafisika.

 

Metafisika dalam arti filosofis: 

Pada abad pertengahan istilah metafisika mempunyai arti filosofis. Metafisika oleh para filsuf  Skolastik diberi arti filosofis dengan mengatakan bahwa metafisika ialah ilmu tentang yang ada, karena muncul sesudah dan melebihi yang fisika (post physicam et supraphysicam) [8]. Istilah  sesudah tidak boleh diartikan secara temporal. Istilah  sesudah yang dimaksudkan disini ialah bahwa objek metafisika sendiri berada pada sesuatu yang abstrak.

 

  1. a.      Pemikiran Metafisika Menurut filosof Barat

Pemikiran metafisika bagi para filosof barat itu berbeda-beda. Yaitu dapat dilihat dalam uraian berikut:

  1. Menurut Plato[9] metafisika lebih cenderung pada manusia karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Dimana sifat tubuh adalah material, sedang sifat jiwa adalah immaterial.[10]
  2. Kosmologis (alam semesta) menurut Aristoteles[11], Keteraturan alam semesta ini ditentukan oleh gerak (motion). Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan (change) di alam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik yang ultimate, yaitu sumber penyebab dari semua gerak, yaitu Unmoved Mover, Penggerak yang tadak digerakkan. [12]
  3. Dalil Etis  Immanuel Kant[13], Dalam diri setiap manusia ada dua kecenderungan yang bersifat niscaya, yaitu keinginan untuk hidup bahagia,  dan  berbuat baik. Kedua kecenderungan itu akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia apabila dijamin oleh kebebasan kehendak keabadian jiwa, dan Tuhan sebagai penjamin hukum moral[14].
  4. Cristian Wloff[15]  mengkasifikasi metafisika menjadi dua yaitu, metafisika generalis (ontologi) dan metafisika specialis (kosmologi, psikologi, dan theologi). Dimana metafisika generalis adalah yang dapat di serap oleh inderawi, sedangkan metafisika specialis adalah yang tidak dapat di serap oleh inderawi.[16]
    1. Metafisika generalis yaitu ontologi (ilmu tentang ada atau pengada).
    2. Metafisika specialis terdiri dari:

a.a. Kosmologi (alam semesta)

a.b. Psikologi (Jiwa)

a.c. Theologi (Tuhan).

 

 

  1. b.      Pemikiran Metafsika Menurut Filosof Islam

 

  1. 1.      Al-Kindi

Tentang filsafat al-Kindi[17] memandang bahwa filsafat haruslah diterima sebagai bagian dari peradaban Islam. Ia berupaya menunjukkan bahwa filsafat dan agama merupakan dua barang yang bisa serasi, ia menegaskan pentingnya kedudukan filsfat dengan menyatakan bahwa aktifitas filsafat yang definisi nya adalah mengetahui hakikat sesuatu sejauh batas kemampuan manusia dan tugas filosof adalah mendapatkan kebenaran.[18]

Tentang metafisika alam al-Kindi mengatakan bahwa alam ini adalah illat-Nya. Alam itu tidak mempunyai asal, kemudian menjadi ada karena diciptakan Tuhan. Al-Kindi juga menegaskan mengenai hakikat Tuhan, Tuhan adalah wujud yang hak (benar) yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia selalu mustahil tidak ada, jadi Tuhan adalah wujud yang sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain.

 

2.       Al-Farabi

Bagi al-Farabi,[19] filafat mencakup matematika, dan matematika bercabang pada ilmu-ilmu lain, sebagaimana ilmu itu berlanjut pada metafisika. Menurut al-farabi bagian metafisika ini secara lengkap dipaparkan oleh aristoteles dalam metaphysics yang sering juga diacu dalam sumber-sumber Arab sebagai “book of letters”, karya ini terdiri atas bagian utama yaitu:

  1. Menelaah yang ada jauh keberadaannya atas ontologi
    1. Menelaah beberapa kaidah pembuktian yang umum dalam logika, matematika dan fisika, atas epistimologi
    2. Menelaah apa dan bagaimana substansi-substansi mujarad (immaterial) yang berjenjang ini menanjak dari yang terendah sampai ke yang tinggi dan berpuncak pada wujud yang sempurna. Dan tak ada yang lebih sempurna dari apa yang telah ada.[20]

Tuhan adalah wujud yang sempurna, ada tanpa suatu sebab, kalau ada sebab baginya, maka adanya Tuhan tidak sempurna lagi. Berarti adanya Tuhan bergantung kepada sebab yang lain, karena itu ia adalah substansi yang azali, yang ada dari semula dan selalu ada, substansi itu sendiri telah cukup jadi sebab bagi keabadian wujudnya. Al-Farabi dalam metafisika nya tentang ketuhanan hendak menunjukkan keesaan Tuhan, juga dijelaskan pula mengenai kesatuan antara sifat dan zat (substansi) Tuhan, sifat Tuhan tidak berbeda dari zat Nya, karena Tuhan adalah tunggal.[21]

Tentang penciptaan alam (kosmologi) al-farabi cenderung memahami bahwa alam tercipta melalu proses emanasi sejak zaman azali, sehingga tergambar bahwa penciptaan alam oleh Tuhan, dari tidak ada menjadi ada, menuut al-Farabi, hanya Tuhan saja yang ada dengan sendirinya tanpa sebab dari luar dirinya. Karena itu ia disebut wajib al-Wujudu zatih.[22]

Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa  wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada. Berfikirnya Allah tentang dzatnya adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya ( al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya.

Secara konseptual hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai berikut :

  1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya.
  2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial.
  3.  Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial).
    1. Benda-benda bumi (teresterial).[23]

Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah, jauh dari materi, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakikat sifat Tuhan bagaimana  terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha Satu. Emanasi seperti yang disinggung di atas merupakan solusinya bagi al-Farabi.

Proses emanasi itu adalah sebagai berikut. Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua, dan juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama (First Intelligent) yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua. Wujud II atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbul langit pertama dan selanjutnya dengan segala planet yang ada pada sistem tata surya.

 

3.      Al-Razi

Persoalan metafisika yang dibahas oleh al-Razi[24] seperti halnya yang ada pada filsafat yunani kuno yaitu tentang adanya lima prinsip yang kekal yaitu: Tuhan, Jiwa Unversal, materi pertama, ruang absolut, dan zaman absolut.[25]

Secara prinsip tentang metafiska dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan substansi ketuhanan-nya kemudian akal, akal berfungsi menyadarkan manusia bahwa dunia yang dihadapi sekarang ini bukanlah dunia yang sebenarnya, dunia yang sebenarnya itu dapat dicapai dengan berfilsafat. Dalam karya tulis al-Razi, al-Tibb al-Ruhani (kedokteran Jiwa) tampak jelas bahwa ia sangat tinggi menghargai akal, dikatakannya bahwa akal adalah karya  terbesar dari Tuhan bagi manusia.

 

  1. D.    Posisi Metafsisika dalam Objek Filsafat
  2. Objek Filsafat

Objek filsafat adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang di bedakan menjadi dua yaitu objek material dan dan objek formal.[26]

  1. Objek material filsafat yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu.[27] Objek material adalah hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencangkup hal-hal yang konkret ataupun hal-hal yang abstrak.

 

  1. Objek formal yaitu sudut pandang yang di tujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek formal filsafat yaitu pandangan yang menyeluruh secara umum , sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang di hadapinya.

 

  1. Metafisika di dalam Objek Filsafat

Metafisika adalah cabang filsafat  yang harus di teliti keberadaanya. Metafiska berkaitan dengan objek formal filsafat yaitu menelaah secara keseluruhan sehingga dapat mencapai hakikat  dari objek materialnya. Adapun objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang di hadapinya.

 

  1. Objek Metafisika

Objek metafisika itu sendiri menurut Prof. B. Delfgaauw adalah objek yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera[28]. Menurut Hoffmann objek metafisika adalah pikiran, gerak waktu, sebab, akibat, tujuan, cara, hukum, moral, dll.

  1. E.     Penutup

Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin: metaphysica dari Yunani meta ta physica (sesudah fisika); dari kata  meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika   merupakan bagian Filsafat tentang hakikat yang ada di sebalik fisika. Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini: dengan mempertanyakan yang Ada (being). Secara etimologi meta adalah tidak dapat di lihat  oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat di lihat secara fisik. Yang tidak bisa di uji secara empiris.

Pemikiran Metafisika di bagi ke dalam  pemikiran filosof barat dan Islam. Menurut pemikiran filosof barat metafisika adalah suatu eksistensi yang cenderung terhadap duniawi (manusia) kecenderungan yang bersifat niscaya, yaitu keinginan untuk hidup bahagia, senang, sedih, marah, benci, cinta. Dan berbuat baik. Sedangkan metafisika Islam cenderug kepada Wujud yang abstrak dan bersifat mutlak yaitu Tuhan (Allah Swt).

 

            Daftar Pustaka

 

Bakker Anton, 1992, Antologi atau Metafisika Umum (Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan), Yogyakarta: Kanisius IKAPI.

 

Bakar Osman, 1997, Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung : Mizan

 

Bagus Lorens, 1991, Metafisika, Suwandi (ed.), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Chairman, Jacob E. Safra 2002, The New Ensyclopaedia Britannica, jilid 24, 5th edition,U.S.A: Library Of  Congres International.

 

Dahlan Abd Aziz, 2003  Pemikiran Filsafat dalam Islam, Jakarta: Djambatan.    

 

Salam Burhanuddin, 2000, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara.

 

Setiawan, 1991, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: IKAPI.

 

Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,  Jakarta: Rineka Cipta.

 

Surajiyo, 2008, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

Surajoyo, 2008,  Ilmu Filsafat “Suatu Pengantar”,  Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

 

Shubhi Ahmad Mahmud, 2001, Filsafat Etika, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

 

 

Siswanto Joko, 1998, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Yogyakarta: Pustaka pelajar. 

 

 

Hanafi Ahmad, 1991, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: PT . Bulan Bintang.

 

Gahral Donny,  2001, Matinya Metafisika Barat, Jakarta: Komunitas Bambu.

 

 

Gazalba Sidi, 1981, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang.

 

 

Yazdi Muhammad Mishbah, 2003,Buku Daras Filsafat Islam, Bandung: Mizan IKAPI.

 


[1] Setiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Cet 2, (Bandung: IKAPI, 1991) hal. 9

 

[2][2] Lorens Bagus, Metafisika, Suwandi (ed.), (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,1991), hal.1

 

[3] Ahmad Mahmud Shubhi, Filsafat Etika, cet 1, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001). Hal. 43.

 

[4] Ibid., hal.35.

 

[5] Muhammad Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Cet. Pertama, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hal. 32

[6] Jacob, E. Safra Chairman, The New Ensyclopaedia Britannica, jilid 24, 5th edition,U.S.A: Library Of  Congres International ,2002,  hal.1

 

 

[7] Terjemahan dari: The New Ensyclopaedia Britannica.

 

[8] Muhammad Mishbah Yazdi, Op.Cit.,  hal.42.

 

[9] Plato (437-347 SM) pertama ia di kenal sebagai seorang penyair dan dia juga adalah seorang pemikir yang jenius. Di antara karya Plato antara lain: The Apology, Protagoras, The Stateman, Symposium, dan lain-lain

 

[10] Donny Gahral, Matinya Metafisika Barat, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001) hal.12.

 

[11] Aristotes (348-321 M) berasal dari Yunani dari daerah Stagira salah satu kota Macedonia. Kajian filsafatnya memuat seluruh pengetahuan manusia yang ada di masanya. Di antara karya Aristoteles ialah: Sam ‘Al-Kiyan (mendengarkan alam), De Caleo (Langit), Animaliun (Hewan), Anima (Jiwa), Metafisika, Politica, Etika, Organon.

 

[12] Joko Siswanto, Sistem-Sistem Metafisika Barat, (Yogyakarta: Pustaka pelajar,  1998) hal. 7.

 

[13] Kant Immanuel (1724-1804) ia dilahirkan di Konigsberg. Dia adalah seorang pemikir filsafat Eropa. Pertama tentang Rasionalisme yang dia dapat dari guru-gurunya. Kemudian yang kedua yaitu emperisme yang sangat berpengaruh pada dirinya.

[14] Ibid,  hal. 57

 

[15] Christian Wolff  (1979-1714) adalah Tokoh yang membuat antologi

 

[16] Surajoyo, Ilmu Filsafat “Suatu Pengantar”, Cet. ketiga, (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2008),  hal.118

 

[17] Nama lengkap Abu Yusuf, Ya’kub Ibnu Ishak Al-Sabbah, Ibnu Imran, Ibnu Al-Asha’ath, Ibnu Kays, Al-Kindi (801-866 M). Al-Kindi berasal dari suku Arab y terpandang dan memainkan peran utama dalam dunia pemikiran Islam.Al-Kindi memulai pelajarannya di Kufah, kemudian di Basrah, dan Baqhdad, Ibn Al-Nadim seorang pustakawan yang terpercaya menyebutkan adanya 242 buah karya al-Kindi dalam bidang logika, metafisika, aritmatika, falak, musik, astrologi, geometri, kedokteran, politik dan sebagainya.

[18] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Cet. Kelima, (Jakarta: PT . Bulan Bintang, 1991), hal. 77

 

[19] Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad al-Farabi lahir di wasij, suatu desa di Farab (Transoxania), Khorasan, pada 257 H (870 M). Ia berasal dari Turki dan orang tuannya adalah seorang jendral. Ia sendiri pernah menjadi hakim dari farab ia pernah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan waktu itu, di sana ia belajar pada abu Bishr matta bin Yunus, dan tinggal di Baghdad selama 20 tahun, kemudian ia pindah ke Alleppo dan tinggal di Istana Saif ad-Daulah guna memusatkan perhatian pda ilmu pengetahuan di filsafat.

[20]             Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, cet. 4 (Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hal. 5

[21] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1993) hal. 296

[22] Abd Aziz Dahlan, Pemikiran Filsafat dalam Islam (Jakarta: Djambatan, 2003)      hal. 63

[23] Osman Bakar, Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, (Bandung : Mizan,1997), hal. 118

[24]  Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria al-Razi, hidup pada 250-313 H/864-925 M. ia lahir, dewasa dan wafat di Ray, dekat Teheran Persia. Al-Razi sangat luas ilmunya, cabang-cabang ilmu pengetahuan yang pernah dipelajarinya ialah filsafat, kedokteran, astronomi, kimia, sastra dan logika. Dengan demikian tidak mengherankan apabila ia dikenal sebagai seorang yang ahli dalam medis, filsafat, dan kimia, di bidang kedokteran al-Razi cukup terkenal, karena karangannya di bidang kedokteran menjadi buku pedoman atau sebagai buku teks kalangan kedokteran.

 

[25] Sidi Gazalba. Sistematika Filsafat, cet  3, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981) hal. 34.

[26] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), cet. 3, hal. 7

 

 

[27] Ibid., hal.7

[28] Anton Bakker, Antologi atau Metafisika Umum (Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan), Cet. Ketujuh, (Yogyakarta: Kanisius (IKAPI), 1992), hal. 15