Makalah Filsafat Ilmu ” METAFISIKA”A.    Pendahuluan  Filsafat, atau dalam

  1. Makalah Filsafat Ilmu ” METAFISIKA”
  2. A.    Pendahuluan

 

 

Filsafat, atau dalam bahasa arab falsafah adalah berpikir radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Objek pemikiran  filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Segala yang ada merupakan bahan pemikiran filsafat. Filsafat merupakan usaha berpikir manusia yang sistematis sehingga membentuk ilmu pengetahuan. Filsafat adalah sebuah refleksi atas semua yang ada, seluruh realitas. Metafisika adalah pengetahuan yang mempersoalkan hakikat terakhir eksistensi, yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan alam. Metafisika tidak hanya sekedar bentuk pengetahuan, melainkan sebuah bentuk pengetahuan yang bersiftat sistematik.

Dalam arti tertentu metafisika merupakan sebuah ilmu, yakni suatu pencarian dengan daya intelek yang bersifat sistematis atas data pengalaman yang ada. Masalah metafisika adalah masalah yang paling dasar dan menjadi inti dalam filsafat[1]. Metafisika dan filsafat pada umumnya ingin mengantar orang kepada kehidupan.  Metafisiska sebagai ilmu yang mempunyai objeknya tersendiri. Hal ini memebedakannya dari pendekatan rasional yang lain. Objek telaahan metasifika berbeda dari ilmu alam, matematika, ilmu kedokteran.

 

  1. B.     Pengertian Metafisika

Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin: metaphysica dari Yunani meta ta physica (sesudah fisika); dari kata  meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika   merupakan bagian Filsafat tentang hakikat yang ada di sebalik fisika.[2] Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini: dengan mempertanyakan yang Ada (being), Alam ini wujud atau tidak? Siapakah kita (manusia)? Apakah peranan kita (manusia) dalam kehidupan ini?. Metafisika secara prinsip mengandung konsep kajian tentang sesuatu yang bersifat rohani dan yang tidak dapat diterangkan dengan kaedah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu yang lain.

  1. Secara etimologi meta adalah tidak dapat di lihat  oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat di lihat secara fisik[3]. Metafisika tidak bisa di uji secara empiris karena keberadaanya yang abstrak.
  2. Secara terminology metafisika Meta berasal (bahasa Italia) berarti setelah atau dibelakang. Adapun istilah lain metafisika  berakar dari kata Yunani, metataphysica. Dengan membuang ta  tambahan dan mengubah  physica ke fisika (physics) jadilah istilah metafisika yang berarti sesuatu di luar hal-hal fisik[4]. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles. Kata ini di-Arabkan menjadi ma’ ba’da al-thabi’ah (sesuatu setelah fisika). Menurut penuturan para sejarahwan filsafat, kata ini pertama kali digunakan sebagai judul buku Aristoteles setelah bagian fisika dan membuat pembahasan umum tentang eksistensi. Sebagian filosof Muslim merasa lebih cocok menggunakan istilah ma qabla al-thabi’ah (sesuatu sebelum fisika)[5]. Tampaknya, bagian yang berbeda adalah teologi utsulujiyyah. Dalam karya-karya para filosof Muslim, semua pembahasan di atas digabungkan dalam bagian “ketuhanan dalam arti umum”. Sedangkan teologi  dikhususkan dengan nama “ketuhanan dalam arti khusus”. Maka, metafisika dipakai untuk menyebut kumpulan soal-soal teoretis-intelektual filsafat dalam arti umum.

 

  1. Metafisika dalam sebuah ensiklopedia Britannica filsafat di artikan sebagai berikut:

Metaphysics is the philosophical study whose objek is to determine the meaning, structure and principles of whater is insofar as it is. Although this study is popularly conceived as referring to anything excessively subtle and highly theoretical and although it has been subjected to many criticisms, it is presented by metaphysicians as the most fundamental and most comprehensive of inquiries, inasmuch as it is concerned with reality as a whole”.[6]

(Translate): “Metafisika adalah studi filosofis yang objeknya untuk menentukan arti, struktur dan prinsip-prinsip. walaupun ini mengacu pada sesuatu yang terlalu halus dan sangat teoritis  dan meskipun mengalami banyak kritik. Maka banyak pertanyaan metafisika yang paling mendasar dan paling komprehensif, karena metafisika berkaitan dengan realitas secara keseluruhan”.[7]

 

 

  1. C.    Pemikiran  Para Filosof Terhadap Metafisika.

 

Metafisika dalam arti filosofis: 

Pada abad pertengahan istilah metafisika mempunyai arti filosofis. Metafisika oleh para filsuf  Skolastik diberi arti filosofis dengan mengatakan bahwa metafisika ialah ilmu tentang yang ada, karena muncul sesudah dan melebihi yang fisika (post physicam et supraphysicam) [8]. Istilah  sesudah tidak boleh diartikan secara temporal. Istilah  sesudah yang dimaksudkan disini ialah bahwa objek metafisika sendiri berada pada sesuatu yang abstrak.

 

  1. a.      Pemikiran Metafisika Menurut filosof Barat

Pemikiran metafisika bagi para filosof barat itu berbeda-beda. Yaitu dapat dilihat dalam uraian berikut:

  1. Menurut Plato[9] metafisika lebih cenderung pada manusia karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Dimana sifat tubuh adalah material, sedang sifat jiwa adalah immaterial.[10]
  2. Kosmologis (alam semesta) menurut Aristoteles[11], Keteraturan alam semesta ini ditentukan oleh gerak (motion). Gerak merupakan penyebab terjadinya perubahan (change) di alam semesta. Akhirnya akal manusia tiba pada suatu titik yang ultimate, yaitu sumber penyebab dari semua gerak, yaitu Unmoved Mover, Penggerak yang tadak digerakkan. [12]
  3. Dalil Etis  Immanuel Kant[13], Dalam diri setiap manusia ada dua kecenderungan yang bersifat niscaya, yaitu keinginan untuk hidup bahagia,  dan  berbuat baik. Kedua kecenderungan itu akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia apabila dijamin oleh kebebasan kehendak keabadian jiwa, dan Tuhan sebagai penjamin hukum moral[14].
  4. Cristian Wloff[15]  mengkasifikasi metafisika menjadi dua yaitu, metafisika generalis (ontologi) dan metafisika specialis (kosmologi, psikologi, dan theologi). Dimana metafisika generalis adalah yang dapat di serap oleh inderawi, sedangkan metafisika specialis adalah yang tidak dapat di serap oleh inderawi.[16]
    1. Metafisika generalis yaitu ontologi (ilmu tentang ada atau pengada).
    2. Metafisika specialis terdiri dari:

a.a. Kosmologi (alam semesta)

a.b. Psikologi (Jiwa)

a.c. Theologi (Tuhan).

 

 

  1. b.      Pemikiran Metafsika Menurut Filosof Islam

 

  1. 1.      Al-Kindi

Tentang filsafat al-Kindi[17] memandang bahwa filsafat haruslah diterima sebagai bagian dari peradaban Islam. Ia berupaya menunjukkan bahwa filsafat dan agama merupakan dua barang yang bisa serasi, ia menegaskan pentingnya kedudukan filsfat dengan menyatakan bahwa aktifitas filsafat yang definisi nya adalah mengetahui hakikat sesuatu sejauh batas kemampuan manusia dan tugas filosof adalah mendapatkan kebenaran.[18]

Tentang metafisika alam al-Kindi mengatakan bahwa alam ini adalah illat-Nya. Alam itu tidak mempunyai asal, kemudian menjadi ada karena diciptakan Tuhan. Al-Kindi juga menegaskan mengenai hakikat Tuhan, Tuhan adalah wujud yang hak (benar) yang bukan asalnya tidak ada menjadi ada, ia selalu mustahil tidak ada, jadi Tuhan adalah wujud yang sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain.

 

2.       Al-Farabi

Bagi al-Farabi,[19] filafat mencakup matematika, dan matematika bercabang pada ilmu-ilmu lain, sebagaimana ilmu itu berlanjut pada metafisika. Menurut al-farabi bagian metafisika ini secara lengkap dipaparkan oleh aristoteles dalam metaphysics yang sering juga diacu dalam sumber-sumber Arab sebagai “book of letters”, karya ini terdiri atas bagian utama yaitu:

  1. Menelaah yang ada jauh keberadaannya atas ontologi
    1. Menelaah beberapa kaidah pembuktian yang umum dalam logika, matematika dan fisika, atas epistimologi
    2. Menelaah apa dan bagaimana substansi-substansi mujarad (immaterial) yang berjenjang ini menanjak dari yang terendah sampai ke yang tinggi dan berpuncak pada wujud yang sempurna. Dan tak ada yang lebih sempurna dari apa yang telah ada.[20]

Tuhan adalah wujud yang sempurna, ada tanpa suatu sebab, kalau ada sebab baginya, maka adanya Tuhan tidak sempurna lagi. Berarti adanya Tuhan bergantung kepada sebab yang lain, karena itu ia adalah substansi yang azali, yang ada dari semula dan selalu ada, substansi itu sendiri telah cukup jadi sebab bagi keabadian wujudnya. Al-Farabi dalam metafisika nya tentang ketuhanan hendak menunjukkan keesaan Tuhan, juga dijelaskan pula mengenai kesatuan antara sifat dan zat (substansi) Tuhan, sifat Tuhan tidak berbeda dari zat Nya, karena Tuhan adalah tunggal.[21]

Tentang penciptaan alam (kosmologi) al-farabi cenderung memahami bahwa alam tercipta melalu proses emanasi sejak zaman azali, sehingga tergambar bahwa penciptaan alam oleh Tuhan, dari tidak ada menjadi ada, menuut al-Farabi, hanya Tuhan saja yang ada dengan sendirinya tanpa sebab dari luar dirinya. Karena itu ia disebut wajib al-Wujudu zatih.[22]

Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa  wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada. Berfikirnya Allah tentang dzatnya adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya ( al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya.

Secara konseptual hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai berikut :

  1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya.
  2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial.
  3.  Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial).
    1. Benda-benda bumi (teresterial).[23]

Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah, jauh dari materi, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakikat sifat Tuhan bagaimana  terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha Satu. Emanasi seperti yang disinggung di atas merupakan solusinya bagi al-Farabi.

Proses emanasi itu adalah sebagai berikut. Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua, dan juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama (First Intelligent) yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua. Wujud II atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbul langit pertama dan selanjutnya dengan segala planet yang ada pada sistem tata surya.

 

3.      Al-Razi

Persoalan metafisika yang dibahas oleh al-Razi[24] seperti halnya yang ada pada filsafat yunani kuno yaitu tentang adanya lima prinsip yang kekal yaitu: Tuhan, Jiwa Unversal, materi pertama, ruang absolut, dan zaman absolut.[25]

Secara prinsip tentang metafiska dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan substansi ketuhanan-nya kemudian akal, akal berfungsi menyadarkan manusia bahwa dunia yang dihadapi sekarang ini bukanlah dunia yang sebenarnya, dunia yang sebenarnya itu dapat dicapai dengan berfilsafat. Dalam karya tulis al-Razi, al-Tibb al-Ruhani (kedokteran Jiwa) tampak jelas bahwa ia sangat tinggi menghargai akal, dikatakannya bahwa akal adalah karya  terbesar dari Tuhan bagi manusia.

 

  1. D.    Posisi Metafsisika dalam Objek Filsafat
  2. Objek Filsafat

Objek filsafat adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang di bedakan menjadi dua yaitu objek material dan dan objek formal.[26]

  1. Objek material filsafat yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu.[27] Objek material adalah hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencangkup hal-hal yang konkret ataupun hal-hal yang abstrak.

 

  1. Objek formal yaitu sudut pandang yang di tujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek formal filsafat yaitu pandangan yang menyeluruh secara umum , sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang di hadapinya.

 

  1. Metafisika di dalam Objek Filsafat

Metafisika adalah cabang filsafat  yang harus di teliti keberadaanya. Metafiska berkaitan dengan objek formal filsafat yaitu menelaah secara keseluruhan sehingga dapat mencapai hakikat  dari objek materialnya. Adapun objek formalnya membahas objek material itu sampai ke hakikat atau esensi yang di hadapinya.

 

  1. Objek Metafisika

Objek metafisika itu sendiri menurut Prof. B. Delfgaauw adalah objek yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera[28]. Menurut Hoffmann objek metafisika adalah pikiran, gerak waktu, sebab, akibat, tujuan, cara, hukum, moral, dll.

  1. E.     Penutup

Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin: metaphysica dari Yunani meta ta physica (sesudah fisika); dari kata  meta (setelah, melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika   merupakan bagian Filsafat tentang hakikat yang ada di sebalik fisika. Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman manusia. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini: dengan mempertanyakan yang Ada (being). Secara etimologi meta adalah tidak dapat di lihat  oleh panca indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi metafisika adalah sesuatu yang tidak dapat di lihat secara fisik. Yang tidak bisa di uji secara empiris.

Pemikiran Metafisika di bagi ke dalam  pemikiran filosof barat dan Islam. Menurut pemikiran filosof barat metafisika adalah suatu eksistensi yang cenderung terhadap duniawi (manusia) kecenderungan yang bersifat niscaya, yaitu keinginan untuk hidup bahagia, senang, sedih, marah, benci, cinta. Dan berbuat baik. Sedangkan metafisika Islam cenderug kepada Wujud yang abstrak dan bersifat mutlak yaitu Tuhan (Allah Swt).

 

            Daftar Pustaka

 

Bakker Anton, 1992, Antologi atau Metafisika Umum (Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan), Yogyakarta: Kanisius IKAPI.

 

Bakar Osman, 1997, Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung : Mizan

 

Bagus Lorens, 1991, Metafisika, Suwandi (ed.), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Chairman, Jacob E. Safra 2002, The New Ensyclopaedia Britannica, jilid 24, 5th edition,U.S.A: Library Of  Congres International.

 

Dahlan Abd Aziz, 2003  Pemikiran Filsafat dalam Islam, Jakarta: Djambatan.    

 

Salam Burhanuddin, 2000, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara.

 

Setiawan, 1991, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: IKAPI.

 

Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,  Jakarta: Rineka Cipta.

 

Surajiyo, 2008, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

Surajoyo, 2008,  Ilmu Filsafat “Suatu Pengantar”,  Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

 

Shubhi Ahmad Mahmud, 2001, Filsafat Etika, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

 

 

Siswanto Joko, 1998, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Yogyakarta: Pustaka pelajar. 

 

 

Hanafi Ahmad, 1991, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: PT . Bulan Bintang.

 

Gahral Donny,  2001, Matinya Metafisika Barat, Jakarta: Komunitas Bambu.

 

 

Gazalba Sidi, 1981, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang.

 

 

Yazdi Muhammad Mishbah, 2003,Buku Daras Filsafat Islam, Bandung: Mizan IKAPI.

 


[1] Setiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Cet 2, (Bandung: IKAPI, 1991) hal. 9

 

[2][2] Lorens Bagus, Metafisika, Suwandi (ed.), (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,1991), hal.1

 

[3] Ahmad Mahmud Shubhi, Filsafat Etika, cet 1, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001). Hal. 43.

 

[4] Ibid., hal.35.

 

[5] Muhammad Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Cet. Pertama, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hal. 32

[6] Jacob, E. Safra Chairman, The New Ensyclopaedia Britannica, jilid 24, 5th edition,U.S.A: Library Of  Congres International ,2002,  hal.1

 

 

[7] Terjemahan dari: The New Ensyclopaedia Britannica.

 

[8] Muhammad Mishbah Yazdi, Op.Cit.,  hal.42.

 

[9] Plato (437-347 SM) pertama ia di kenal sebagai seorang penyair dan dia juga adalah seorang pemikir yang jenius. Di antara karya Plato antara lain: The Apology, Protagoras, The Stateman, Symposium, dan lain-lain

 

[10] Donny Gahral, Matinya Metafisika Barat, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001) hal.12.

 

[11] Aristotes (348-321 M) berasal dari Yunani dari daerah Stagira salah satu kota Macedonia. Kajian filsafatnya memuat seluruh pengetahuan manusia yang ada di masanya. Di antara karya Aristoteles ialah: Sam ‘Al-Kiyan (mendengarkan alam), De Caleo (Langit), Animaliun (Hewan), Anima (Jiwa), Metafisika, Politica, Etika, Organon.

 

[12] Joko Siswanto, Sistem-Sistem Metafisika Barat, (Yogyakarta: Pustaka pelajar,  1998) hal. 7.

 

[13] Kant Immanuel (1724-1804) ia dilahirkan di Konigsberg. Dia adalah seorang pemikir filsafat Eropa. Pertama tentang Rasionalisme yang dia dapat dari guru-gurunya. Kemudian yang kedua yaitu emperisme yang sangat berpengaruh pada dirinya.

[14] Ibid,  hal. 57

 

[15] Christian Wolff  (1979-1714) adalah Tokoh yang membuat antologi

 

[16] Surajoyo, Ilmu Filsafat “Suatu Pengantar”, Cet. ketiga, (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2008),  hal.118

 

[17] Nama lengkap Abu Yusuf, Ya’kub Ibnu Ishak Al-Sabbah, Ibnu Imran, Ibnu Al-Asha’ath, Ibnu Kays, Al-Kindi (801-866 M). Al-Kindi berasal dari suku Arab y terpandang dan memainkan peran utama dalam dunia pemikiran Islam.Al-Kindi memulai pelajarannya di Kufah, kemudian di Basrah, dan Baqhdad, Ibn Al-Nadim seorang pustakawan yang terpercaya menyebutkan adanya 242 buah karya al-Kindi dalam bidang logika, metafisika, aritmatika, falak, musik, astrologi, geometri, kedokteran, politik dan sebagainya.

[18] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Cet. Kelima, (Jakarta: PT . Bulan Bintang, 1991), hal. 77

 

[19] Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad al-Farabi lahir di wasij, suatu desa di Farab (Transoxania), Khorasan, pada 257 H (870 M). Ia berasal dari Turki dan orang tuannya adalah seorang jendral. Ia sendiri pernah menjadi hakim dari farab ia pernah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan waktu itu, di sana ia belajar pada abu Bishr matta bin Yunus, dan tinggal di Baghdad selama 20 tahun, kemudian ia pindah ke Alleppo dan tinggal di Istana Saif ad-Daulah guna memusatkan perhatian pda ilmu pengetahuan di filsafat.

[20]             Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, cet. 4 (Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hal. 5

[21] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1993) hal. 296

[22] Abd Aziz Dahlan, Pemikiran Filsafat dalam Islam (Jakarta: Djambatan, 2003)      hal. 63

[23] Osman Bakar, Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, (Bandung : Mizan,1997), hal. 118

[24]  Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria al-Razi, hidup pada 250-313 H/864-925 M. ia lahir, dewasa dan wafat di Ray, dekat Teheran Persia. Al-Razi sangat luas ilmunya, cabang-cabang ilmu pengetahuan yang pernah dipelajarinya ialah filsafat, kedokteran, astronomi, kimia, sastra dan logika. Dengan demikian tidak mengherankan apabila ia dikenal sebagai seorang yang ahli dalam medis, filsafat, dan kimia, di bidang kedokteran al-Razi cukup terkenal, karena karangannya di bidang kedokteran menjadi buku pedoman atau sebagai buku teks kalangan kedokteran.

 

[25] Sidi Gazalba. Sistematika Filsafat, cet  3, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981) hal. 34.

[26] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), cet. 3, hal. 7

 

 

[27] Ibid., hal.7

[28] Anton Bakker, Antologi atau Metafisika Umum (Filsafat Pengada dan Dasar-dasar Kenyataan), Cet. Ketujuh, (Yogyakarta: Kanisius (IKAPI), 1992), hal. 15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s